Kubuka ponselku tiap jam, hingga waktu berlalu dan matahari dijemput pulang. Tak ada satu pun, pesan dari mu. Entah aku sedang menunggu atau aku cuma kangen sambil malu-malu.
Aku menggerutu pada angin, pada waktu yang terus berlalu, kubilang pelan-pelan “ah, aku rindu!”
Sejujurnya aku benci punya kangen yang sebegini besar padamu, toh kamu juga nggak berarti kangen padaku. Aku kangen dengan hal-hal kecil darimu, semisal perihal senyum atau matamu. Atau aku kangen melihatmu mengenakan sepatu, dan juga kangen melihatmu sekedar membenarkan letak leher kemejamu dan kaus-kaus yang selalu kau pakai seadanya. Seakan kita sama-sama benci dandan dan malas berpikir panjang “aku pakai baju apa ya?”
Kau sedang apa lelaki yang selalu membuatku dapat bersabar lebih ekstra? Apa kau beranjak tidur? atau justru sedang melamun memandang langit-langit kamarmu?
Ini sudah pukul sepuluh malam ditempatku, sebentar lagi aku akan pergi menggosok gigi, lalu mencuci muka, sholat isya’, lalu menuju kasur empuk dan melipat namamu, dalam imajinasiku, kutaruh lipatan nama tadi dibawah bantal, dan kau akan tau kenapa aku tidur dengan tangan yang berusaha meraih-raih apa yang ada dibawah bantal. Mungkin itu, penyebab aku selalu kangen duluan, ketimbang kamu.
0 komentar:
Posting Komentar