Di
siang yang panas ini saya mau cerita soal pengalaman traveling saya Sabtu (9/12)
lalu ke sisa-sisa Kerajaan Majapahit di Trowulan, Jawa Timur. Sebenernya ada
niat tertentu untuk main kesana, yaitu untuk ngerjain tugas mata kuliah motion
yang mengharuskan mengambil objek tentang budaya, dan tanpa berpikir panjang,
begitu saya tau kalau di Trowulan ada situs peninggalan sejarah, langsunglah
saya menyusun rencana untuk pulang ke kampung halaman (Kediri) sambil sekalian
nanti mampir ke Trowulan. Yuhuuu langsung tancap gas meeeeen!!
Sampai
di Kediri saya masih cari-cari teman yang mau ikut saya untuk pergi ke Trowulan
untuk ngerjain tugas mata kuliah yang amat membosankan itu, dan ternyata
sahabat saya sedang nggak bisa pulang ke Kediri sabtu pagi, dia baru bisa
pulang sore harinya. Baiklaaah.. dengan berat hati saya membulatkan tekad untuk
solo trip kesana, berbekal peta seadanya dan uang secukupnya. Ditemani tripod
tercinta, saya berangkat ke halte bus sekitar pukul 04.30 pagi. Karena nggak
dibolehin orangtua untuk naik motor sendiri, akhirnya saya memilih naik bus
jurusan Surabaya dan saya berhenti di Trowulan, lebih tepatnya kalau kita
ngomong turun ke museum majapahit, maka sang kondektur bus pasti tau kemana
kita akan diturunkan, hehehe. Perjalanan dari Kediri ke Trowulan sekitar 1 jam
lebih 45 menit, dengan biaya bus 14ribu rupiah (karena saya naik bus dengan
tarif biasa).
Tiba
ditempat saya turun sekitar pukul 06.45, saya langsung dihampiri tukang ojek,
ah seperti yang saya duga sebelumnya, kalau sampai disana pasti langsung
disambut tukang ojek yang siap mengantarkan kita muter-muter ke semua situs
peninggalan majapahit, kerajaan yang amat terkenal dengan Sumpah Palapa yang
dikemukakan Gadjah Mada pada upacara
pengangkatannya menjadi Patih Amangkubhumi Majapahit saat itu. Menurut sumber, beginilah isi sumpahnya :
Sira Gajah Madapatih Amangkubhumi tan ayun
amuktia palapa, sira Gajah Mada: "Lamun huwus kalah nusantara isun amukti
palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, TaƱjung Pura, ring Haru, ring
Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti
palapa".
Terjemahannya,
Beliau Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak
ingin melepaskan puasa. Ia Gajah Mada, "Jika telah mengalahkan Nusantara,
saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura,
Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru
akan) melepaskan puasa".
Dari isi naskah ini dapat diketahui bahwa pada
masa diangkatnya Gajah Mada, sebagian wilayah Nusantara yang disebutkan pada sumpahnya belum
dikuasai Majapahit.
Yaaah
barangkali ini berguna ya kalau ada yang lagi nyari tentang Sumpah Palapa dan
nyasar ke blog ini hehe. Lumayana lah buat nambah pengetahuan tentang sejarah
Nusantara tercinta. Oh ya, saya diantar tukang ojeknya pertama adalah ke Candi
Brahu, ternyata sampai disana gerbangnya belum dibuka karena petugasnya belum
datang, lalu kami memutuskan alih rute untuk mengunjungi Wringin Lawang
terlebih dahulu. Ini lah penampakan Wringin Lawang:
Setelah
puas motret di Wringin Lawang yang terlihat seperti gapura ketimbang candi ini,
kami langsung menuju ke destinasi selanjutnya yaitu ke Candi Bajang Ratu, ini
dia penampakannya :
Cukup
saya ambil beberapa angle dari candi tersebut, apalagi cuaca yang cukup panas
dan saya pas itu sudah lumayan hopeless karena langitnya flat, akhirnya kami
(saya dan tukang ojek) beranjak dan kemudian menuju ke Candi Tikus.
Saat di candi tikus, saya
memberanikan diri untuk tanya ke tukang ojek bayarnya berapa kalau sampai
tuntas muter-muter ke seluruh situs, enggg sebenernya waktu pagi saya udah
tanya sih, katanya terserah saya,, tapi.. ah mana saya tau, naik ojek aja baru
ketiga kali ini. Dengan penuh deg-degan saya akhirnya bertanya,
“Pak, maaf, kalau saya kasih
50rb bagaimana?”
“Saya biasanya 100 mbak
paling rendah, ada yang kasih 150, 200 juga ada.”
*dengan diliputi rasa kaget,
sedih, haru, bingung* saya mikir keras gimana caranya pulang, duit aja tinggal
90rb, akhirnya saya bilang, kalau tujuannya habis ini langsung ke pendopo.
Akhirnya bapak tukang ojek itu mengantar saya ke pendopo, sampai disana saya
disuruh segera motret semua interior, dan apa aja yg ada disana. Saya ngotot
menyuruh bapak ojeknya untuk nurunin saya disitu aja, biar saya ke
pemberhentian bus jalan kaki. Gak masalah sih sebenernya, toh saya udah biasa
jalan kaki jarak jauh. Tapi rupanya bapak ojeknya justru lebih ngotot dari saya
*duh*, dia mau anterin saya muter-muter sampai Candi Brahu, dengan bayaran
seperti yg udah saya bilang tadi, 50rb. Ya Tuhan, makasih banget udah kirim
saya orang yang baik banget disaat gak ada orang lagi yang bisa saya mintai
pertolongan. Katanya dia kasihan sama saya, karena jarak dari pendopo ke tempat
pemberhentian bus itu jaraknya jauuuh apalagi saya sendirian kayak orang ilang.
Semenjak kesepakatan saya sama bapak ojeknya, saya jadi agak ‘sungkan’ kalo
motret lama-lama, sampai saya gak konsen pas di pendopo, alhasil inilah yang
saya foto :
Setelah dari pendopo saya
langsung diantar ke Sleeping Buddha, masih dengan suasana yang sama, saya nggak sepenuh hati motretnya,
mau foto sama Buddha nya juga gak ada yg motoin. Si bapak ojeknya juga ngantar
saya keliling area Sleeping Buddha lho, tapi itu perasaan saya udah sungkan
duluan, jadi ya saya Cuma motret dikit. Huh.
Akhirnyaaaaa sampai juga di Candi Brahu, dengan kecepatan kilat saya susun tripod buat timelapse si candi dari dua angle aja, saya bener-bener udah ‘nggak enak’ sama bapaknya yang nungguin. Tadaaa inilah fotonya Candi Brahu yang cantik:
Baiklah,
selesai juga tugas saya ambil 4 candi peninggalan Majapahit. Akhirnya bapak ojeknya
anterin saya ke pemberhentian bus. Di sepanjang perjalanan saya mikir buat
ngasih bapaknya 60rb, dan pas udah sampai dan bayar, si bapak malah bilang
gini:
“Masih
ada uang kan mbak buat pulang? Kalau nggak ada ini dibawa dulu aja.”
“Ini
masih kok pak.”
“yaudah,
hati-hati mbak.”
“iya
pak, terimakasih banyak ya pak.”
Saya pulang dengan
perasaan lega dan bersyukur. Terlalu banyak kebaikan yang diberikan Tuhan hari
itu. Setidaknya saya tidak sia-sia pergi kesana, dan cukup senang karena pada
akhirnya langit berwarna biru cerah. Saran saya sih, kalau datang ke Trowulan
untuk jalan-jalan ke situs sejarahnya, lebih baik naik motor sendiri (kalau
bisa), karena ojeknya mahal, maklum sih, candi-candinya menyebar cukup jauh.
Berusahalah untuk berhemat. Baiklaaah sampai jumpa di jalan-jalan berikutnya :'3
.jpg_effected.jpg)
0 komentar:
Posting Komentar