“Hey, aku ingin
cerita. Sudah lama aku ingin menceritakan sesuatu yang benar-benar membuatku
tidak nyaman ini.” Willy terlihat memohon.
“Baiklah, nanti
pulang sekolah temui aku di tangga.” Rhea menyanggupinya.
Murid-murid berhamburan,
senyum mereka mengembang karena akhirnya hari yang melelahkan benar-benar
berakhir. Mungkin mereka merasa ingin segera tiba dirumah dan mencicipi masakan
ibu.
Aku menaiki anak
tangga satu persatu, dan sampailah ditempat Rhea sekarang.
“Kau ingin
cerita apa ?sebegitu penting ?atau kau ingin menceritakan tentang Renald mu itu
?” Rhea menghujaniku dengan beribu pertanyaan.
“Bukan, kali ini
berbeda. Aku tidak akan pernah bercerita tentang Renald lagi.”
“Lalu....?”
Kata-kata Rhea terhenti dan matanya tertuju pada sesosok pria yang sedang
berdiri sambil bersua dengan orang didepannya.
“Oh, Tuhan..
sungguh indah apa yang ada didepan mataku ini.” Rhea tersenyum bahagia.
Aku hanya diam
terpaku dan masih mencerna apa yang dikatakan Rhea dan yang dilihatnya tadi. “indah
? siapa ? kamu kenal ?” aku bertanya kepada Rhea dan memastikan apakah semua
baik-baik saja.
“Jelas saja aku
kenal. Dia Ardy yang kuceritakan padamu beberapa bulan yang lalu. Dan aku sudah
bercerita padamu kalau aku menyukainya , bukan ?” Rhea mencoba meyakinkan
Willy.
Apa ? Rhea
menyukainya ? Bahkan aku tidak ingat bahwa Rhea pernah menceritakannya ? Lalu
apa yang sedang terjadi sekarang ? Aku dan Rhea mengagumi orang yang sama ? Apa
yang akan kuceritakan pada Rhea ? Tidak mungkin aku mengatakan kalau aku
mengaguminya. Tidak mungkin.
“Hey, kenapa
diam saja ?”
“Tidak.”
“Lalu kau mau
cerita apa tadi?”
“Tidak, mungkin
lain kali. Aku harus pergi sekarang, maaf.” Willy kehabisan kata. Darahnya
serasa berhenti mengalir, napasnya tercekat. Dan Willy merasa yang paling baik
dilakukannya saat ini adalah pergi. Pergi dari kekacauan ini.
Pagi ini sama
seperti biasanya. Tidak ada yang berubah disekolah Willy. Willy datang lebih
pagi dari biasanya, dan duduk sambil melamun menempati bangku disebelah pohon
kamboja yang bunga-bunganya mulai merekah dan berwarna merah jambu. Willy amat
menyukai suasana seperti ini, dimana ia menemukan ketenangan walaupun hanya
sebentar. Rhea datang tiba-tiba dan membuyarkan lamunannya. “Hey, sedang apa
disini ?” Willy dengan pelan menjawabnya.“Berdiam diri dan menikmati langit
mendung ditemani harum bunga kamboja”
“Oh, kau harus
bercerita padaku tentang kemarin. Kenapa kau tiba-tiba pergi ?”
“Tidak, tidak
ada yang harus kuceritakan padamu.”
“Yang benar saja
? cepat ceritakan padaku, ini pasti bukan masalah kecil, karena kau tiba-tiba
saja pergi, dan aku harus tahu apa yang terjadi. Aku akan mendengarkanmu.
Sungguh.”
Willy
bersiap-siap membuka mulutnya dan berhati-hati dalam setiap ucapan. “Maaf, aku
menyukai orang yang sama. Orang yang juga kau sukai.”
“Apa ?” Mata
Rhea berkaca-kaca.
“Sudah kubilang,
ini tidak perlu kukatakan. Aku tidak bermaksud seperti ini. Aku tidak tahu
ternyata kau juga menyukainya. Bahkan mungkin yang kau rasakan lebih dari apa yang kurasakan. Maka dari itu aku
tidak ingin memberitahumu.”
”Jadi ini?
Kelakuan sahabatku sendiri? Aku menyukainya lebih dulu dan kau pasti tahu.”
Rhea pergi dan meninggalkan Willy sendiri.
Perasaan Willy
benar-benar kacau. Darahnya serasa berhenti mengalir, hatinya berkecamuk. Dia
merasa sahabatnya pergi jauh dan benci padanya.
Willy merasa
hari-harinya sepi setelah pertentangan itu. Rhea belum bisa menerima penjelasan
Willy. Willy berkata dalam hati, aku tidak pernah meminta rasa ini datang,
membiarkannya tumbuh, menjalari seluruh tubuhku dan membuat otakku terus
memikirkannya. Sungguh aku tidak pernah meminta, apalagi kalau aku tahu ini
hanya akan membuat teman baikku menangis. Untuk apa rasa ini datang ? Kalau
pada akhirnya sekarang aku harus memaksannya pergi. Aku tidak bisa.
Willy tidak
pernah melewati kelas Ardy, juga menghindarinya. Ia merasa mungkin ini cara
yang baik agar seluruh rasa itu pergi dengan cepat. Tapi tidak bisa, semakin
hari mencoba untuk jauh dari Ardy, rasa itu justru semakin membeku dalam
hatinya, melekat dan tidak pernah lepas.
Beberapa bulan
berjalan, sikap Rhea masih dingin terhadap Willy. Setiap kali bertemu Rhea,
Willy tersenyum seperti biasa. Tapi Rhea tidak pernah membalas senyumnya.
Willy ingin
semua kembali seperti semula, ia ingin di akhir bulan Desember ini semua
membaik. Tidak bisa terus memaksakan rasa itu pergi karena hanya akan
membuatnya sakit. Keputusannya adalah
pergi dari semua ini.
Ibu Rhea
menemukan sesuatu didepan pintu rumahnya. “Rhea, ada mawar putih didepan pintu.
Coba kau lihat.”
Rhea datang dan
mengambil mawar putih itu. “Dari Willy ? Ada apa ?” , Rhea bertanya dalam hati.
Di mawar putih itu, terselip selembar surat.
“Maafkan aku, sekarang aku akan pergi dari
kehidupanmu. Dan maaf, aku tidak bisa membuang rasa ini. Terimakasih, kau sudah
menjadi teman baikku. Semoga aku bisa menjadi putih bagimu seperti mawar ini.
Entah kapan aku akan menjadi putih.”
Kini Rhea
mengerti dan ingin bertemu dengan Willy, menyelesaikan semuanya, namun sudah terlambat.
“Kau akan
menjadi putih sahabatku, seperti mawar ini.” Rhea berkata dalam hati dan
butiran air mata menuruni pipi lembutnya.
0 komentar:
Posting Komentar