mawar putih bulan Desember

Leave a Comment

“Hey, aku ingin cerita. Sudah lama aku ingin menceritakan sesuatu yang benar-benar membuatku tidak nyaman ini.” Willy terlihat memohon.
“Baiklah, nanti pulang sekolah temui aku di tangga.” Rhea menyanggupinya.
Murid-murid berhamburan, senyum mereka mengembang karena akhirnya hari yang melelahkan benar-benar berakhir. Mungkin mereka merasa ingin segera tiba dirumah dan mencicipi masakan ibu.
Aku menaiki anak tangga satu persatu, dan sampailah ditempat Rhea sekarang.
“Kau ingin cerita apa ?sebegitu penting ?atau kau ingin menceritakan tentang Renald mu itu ?” Rhea menghujaniku dengan beribu pertanyaan.
“Bukan, kali ini berbeda. Aku tidak akan pernah bercerita tentang Renald lagi.”
“Lalu....?” Kata-kata Rhea terhenti dan matanya tertuju pada sesosok pria yang sedang berdiri sambil bersua dengan orang didepannya.
“Oh, Tuhan.. sungguh indah apa yang ada didepan mataku ini.” Rhea tersenyum bahagia.
Aku hanya diam terpaku dan masih mencerna apa yang dikatakan Rhea dan yang dilihatnya tadi. “indah ? siapa ? kamu kenal ?” aku bertanya kepada Rhea dan memastikan apakah semua baik-baik saja.
“Jelas saja aku kenal. Dia Ardy yang kuceritakan padamu beberapa bulan yang lalu. Dan aku sudah bercerita padamu kalau aku menyukainya , bukan ?” Rhea mencoba meyakinkan Willy.
Apa ? Rhea menyukainya ? Bahkan aku tidak ingat bahwa Rhea pernah menceritakannya ? Lalu apa yang sedang terjadi sekarang ? Aku dan Rhea mengagumi orang yang sama ? Apa yang akan kuceritakan pada Rhea ? Tidak mungkin aku mengatakan kalau aku mengaguminya. Tidak mungkin.
“Hey, kenapa diam saja ?”
“Tidak.”
“Lalu kau mau cerita apa tadi?”
“Tidak, mungkin lain kali. Aku harus pergi sekarang, maaf.” Willy kehabisan kata. Darahnya serasa berhenti mengalir, napasnya tercekat. Dan Willy merasa yang paling baik dilakukannya saat ini adalah pergi. Pergi dari kekacauan ini.



Pagi ini sama seperti biasanya. Tidak ada yang berubah disekolah Willy. Willy datang lebih pagi dari biasanya, dan duduk sambil melamun menempati bangku disebelah pohon kamboja yang bunga-bunganya mulai merekah dan berwarna merah jambu. Willy amat menyukai suasana seperti ini, dimana ia menemukan ketenangan walaupun hanya sebentar. Rhea datang tiba-tiba dan membuyarkan lamunannya. “Hey, sedang apa disini ?” Willy dengan pelan menjawabnya.“Berdiam diri dan menikmati langit mendung ditemani harum bunga kamboja”
“Oh, kau harus bercerita padaku tentang kemarin. Kenapa kau tiba-tiba pergi ?”
“Tidak, tidak ada yang harus kuceritakan padamu.”
“Yang benar saja ? cepat ceritakan padaku, ini pasti bukan masalah kecil, karena kau tiba-tiba saja pergi, dan aku harus tahu apa yang terjadi. Aku akan mendengarkanmu. Sungguh.”
Willy bersiap-siap membuka mulutnya dan berhati-hati dalam setiap ucapan. “Maaf, aku menyukai orang yang sama. Orang yang juga kau sukai.”
“Apa ?” Mata Rhea berkaca-kaca.
“Sudah kubilang, ini tidak perlu kukatakan. Aku tidak bermaksud seperti ini. Aku tidak tahu ternyata kau juga menyukainya. Bahkan mungkin yang kau rasakan lebih  dari apa yang kurasakan. Maka dari itu aku tidak ingin memberitahumu.”
”Jadi ini? Kelakuan sahabatku sendiri? Aku menyukainya lebih dulu dan kau pasti tahu.” Rhea pergi dan meninggalkan Willy sendiri.
Perasaan Willy benar-benar kacau. Darahnya serasa berhenti mengalir, hatinya berkecamuk. Dia merasa sahabatnya pergi jauh dan benci padanya.



Willy merasa hari-harinya sepi setelah pertentangan itu. Rhea belum bisa menerima penjelasan Willy. Willy berkata dalam hati, aku tidak pernah meminta rasa ini datang, membiarkannya tumbuh, menjalari seluruh tubuhku dan membuat otakku terus memikirkannya. Sungguh aku tidak pernah meminta, apalagi kalau aku tahu ini hanya akan membuat teman baikku menangis. Untuk apa rasa ini datang ? Kalau pada akhirnya sekarang aku harus memaksannya pergi. Aku tidak bisa.
Willy tidak pernah melewati kelas Ardy, juga menghindarinya. Ia merasa mungkin ini cara yang baik agar seluruh rasa itu pergi dengan cepat. Tapi tidak bisa, semakin hari mencoba untuk jauh dari Ardy, rasa itu justru semakin membeku dalam hatinya, melekat dan tidak pernah lepas.
Beberapa bulan berjalan, sikap Rhea masih dingin terhadap Willy. Setiap kali bertemu Rhea, Willy tersenyum seperti biasa. Tapi Rhea tidak pernah membalas senyumnya.
Willy ingin semua kembali seperti semula, ia ingin di akhir bulan Desember ini semua membaik. Tidak bisa terus memaksakan rasa itu pergi karena hanya akan membuatnya sakit.  Keputusannya adalah pergi dari semua ini.




Ibu Rhea menemukan sesuatu didepan pintu rumahnya. “Rhea, ada mawar putih didepan pintu. Coba kau lihat.”
Rhea datang dan mengambil mawar putih itu. “Dari Willy ? Ada apa ?” , Rhea bertanya dalam hati. Di mawar putih itu, terselip selembar surat.
“Maafkan aku, sekarang aku akan pergi dari kehidupanmu. Dan maaf, aku tidak bisa membuang rasa ini. Terimakasih, kau sudah menjadi teman baikku. Semoga aku bisa menjadi putih bagimu seperti mawar ini. Entah kapan aku akan menjadi putih.”
Kini Rhea mengerti dan ingin bertemu dengan Willy, menyelesaikan semuanya, namun sudah terlambat.
“Kau akan menjadi putih sahabatku, seperti mawar ini.” Rhea berkata dalam hati dan butiran air mata menuruni pipi lembutnya.
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar:

Posting Komentar